
Idul fitri menjadi titik temu dimana hati yang sempat berjauhan kembali di dekatkan. Ada kelegaan seolah beban berat yang ada di hati akhirnya sirna. Tidak hanya berdamai dengan dunia tetapi juga berdamai dengan diri sendiri. Di momen itu seperti ada rasa tenang yang sulit untuk dijelaskan. Semua hal seperti kembali tersusun rapih ketempatnya masing-masing.
Idul fitri meninggalkan suasana istimewa yang perlahan mereda. Baju lebaran favorit dan elok dipandang masih tergantung rapih dan bahkan ada beberapa yang belum sempat terpakai. Toples-toples kaca yang berisi keu-kue enak itu mulai jarang tersentuh. Pekan kemarin rumah ini terisi cerita-cerita yang begitu istimewa dan kini kembali tenang. Sanak saudara sudah kembali ke perantauan memulai kembali kesibukan masing-masing.
Namun dibalik semua yang kembali normal ini ada jeda kecil yang terasa lebih sunyi dan lebih panjang dari biasanya. Sepertinya waktu sedang berhenti sejenak memberi ruang hampa bagi kita untuk melihat sekitar, mengingat puing-puing kenangan masa lalu, dan merasakan apa yang tersisa.
Pada ruang hampa itu aku terduduk pada sebangku kayu. Lalu entah bagaimana, kesadaran ini seperti ditarik masuk lebih dalam ke ruangan gelap itu. "Ruang apa ini ya Rabb?" tanya ku kepada Allah. Aku memanggil namun tidak ada suara yang kembali ataupun menjawab.
Semakin cemas aku didalamnya, dan terkejut aku karena cahaya putih menyala tajam dari sisi dinding memecah terang tanpa aba-aba. Silaunya perlahan meredup perlahan kembali menampilkan sesuatu tayangan tentang diriku dibulan Ramadhan.
Potongan-potongan kisah kehidupan di bulan ramadhan yang sangat mudah dikenali. Terlihat momen-momen kecil tentang diriku sedang diputar kembali. Mulai dari momen bangun sahur yang begitu kuat, perjalanan sholat subuh kemasjid yang terasa begitu ringan, berlama-lama dalam dzikir dan membuka mushaf, serta berdo'a dengan harapan yang dalam.
Kemudian muncul momen ketika aku berangan-angan dengan target-target tentang diriku yang ingin diperbaiki, ibadah-ibadah yang ingin kukejar, dan janji-janji menjaga taubat. Seakan waktu itu aku benar-benar yakin dan percaya pada diriku sendiri bahwa di Ramadhan ini aku akan menjadi lebih baik.
Masih menampilkan tentang diriku, dengan rasa malu dan kecewa menyaksikan momen-momen selanjutnya. Diriku mulai terlalaikan bahwa ramadhan punya waktu hitung mundur. Sahurku terlewat karena alasan tubuhku masih kuat berpuasa meskipun tanpa sahur, padahal karena nyamannya selimut. Mulai menunda amalan yang sunnah. Mulai jarang membuka mushaf dan tergantikan oleh hal-hal yang sepele. Bukan karena tidak tahu, tapi karena merasa masih ada waktu.
Ada rasa yang muncul sesak dan mulai sulit dijelaskan. Seperti menyadari sesuatu yang benar-benar krusial betapa mudahnya terlewatkan begitu saja tapi baru menyadarinya sekarang. Tanpa bisa berpaling, penyesalan itu mulai datang merayap dari kedua ujung jari tangan dan mengatakan, "Allah telah memberi kesempatan yang aku sia-siakan, dan seharusnya aku bisa lebih baik dari ini."
Tayangan itu masih berlanjut, kini menampilkan bagian-bagian yang tak pernah kusadari. Mulai dari ucapan yang terlepas, pandangan yang tak terjaga, hingga kelalaian parah lainnya. Ini bukan lagi tentang hal-hal baik yang belum dilakukan, melainkan hal-hal buruk yang harus di hindari namun tetap dilakukan. Aku menyaksikan tanpa pembelaan, tak ada yang disangkal, dan tak ada yang bisa disembunyikan.
Aku tak kuat menatap tayangan itu dan lututku terasa lemah. Perlahan tayangan meredup dan ruangan kembali gelap. Suaraku lirih mengucapkan, " Ya Allah, maaf...". Dengan perasaan sedih dan malu, kukira sudah menjadi hamba yang baik ternyata kebaikan ku hanya sedikit. Aku kira kebaikanku bertambah banyak dan dapat menghadap kepada-Mu dalam keadaan bersih dan membuat-Mu ridha kepadaku. Namun dosaku selalu bertambah dan tak sadar kusimpan.
"Ya Allah, aku datang bukan membawa amal tapi membawa kelalaian. Aku ingin menambah pahala tapi dosaku juga ikut bertambah. Aku tahu, tapi aku memilih untuk menunda. Aku sadar, tapi terus melangkah ke arah yang salah. Aku menyesal, dan sangat menyesal. Namun waktu tak dapat kembali untuk ku perbaiki."
Di tengah tangis yang lirih, seperti ada suara yang tak terdengar oleh telinga namun masuk sampai ke hati. Seperti ada tangan yang dengan lembut dan tenang mengusap air mataku.
"Katakanlah, Wahai hamba-hambaku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."
Tangisku semakin pecah setelah mengingat kalimat itu.
Setelah lama aku menangisi semuanaya, terasa seperti ada seseorang yang merangkul pundak dan berkata, "Setiap anak adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat."
Ya Rabb, izinkan aku kembali. Bimbing aku untuk tidak hanya menyesal, tapi juga berubah. Bimbing aku untuk bertahan, istiqamah, meski pelan dan meski pun jatuh lagi.
~ Aminah





