-
-
Cari ...
March 3, 2026, 2:58 pm

Jika Engkau Pergi, Apakah Kami Masih Mengingatmu?

Jika Engkau Pergi, Apakah Kami Masih Mengingatmu?
Datangnya ditunggu-tunggu, tapi pas udah di penghujung malah bikin panik sendiri. Perasaan baru kemarin kita bilang, “Ah masih lama,” sekarang tiba-tiba udah mau pisah.

Yang bikin deg-degan sebenarnya bukan perpisahannya. Tapi pertanyaan setelahnya, "Kalau Ramadan udah pergi… kita masih jadi versi yang sekarang ini nggak?"

Karena jujur aja, selama Ramadan kita tuh beda. Lebih kalem, lebih mikir sebelum ngomong, lebih sering buka Al-Qur’an, walaupun awalnya kepaksa karena target khatam, lebih rajin salat tepat waktu, bahkan yang biasanya susah bangun malam, entah kenapa jadi bisa.

Padahal Allah sudah jelasin tujuan puasa itu jelas banget, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Qur'an 2:183)

Tujuannya bukan cuma nahan lapar. Bukan sekadar ikut suasana. Tapi biar kita naik level jadi lebih bertakwa. Masalahnya, kadang kita semangat karena suasana. Semua orang lagi ibadah, timeline penuh kajian, masjid rame, sahur dan buka bareng. Rasanya kalau "nggak ikut baik" itu kayak malu sendiri.

Lalu muncul pertanyaan yang agak nyentil, "Apa kita benar-benar berubah, atau cuma kebawa vibe Ramadan?"

Karena konsistensi itu jauh lebih susah daripada semangat awal. Dan Rasulullah pernah bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dicintai itu yang rutin, walaupun kecil, walaupun nggak heboh, walaupun nggak ada yang lihat. Ini yang sering bikin kita ketampar halus. Karena jujur aja, jadi baik 30 hari itu mungkin. Tapi jadi baik 11 bulan setelahnya? Nah, itu ujian sebenarnya.

Ramadan sebenarnya bukan tentang 30 hari itu. Tapi tentang apa yang terjadi setelahnya. Kalau setelah Ramadan kita balik lagi ke kebiasaan lama, salat mulai bolong, Qur’an mulai jarang disentuh, emosi gampang meledak, berarti yang berubah cuma jadwal, bukan hati.
-
Dan ada satu ayat yang selalu bikin kita mikir ulang, “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Al-Qur'an 3:185)

Kita sering santai karena merasa Ramadan tahun depan pasti ada. Padahal belum tentu kita yang masih ada. Di situlah rasa takut itu muncul. Bukan takut Ramadan pergi. Tapi takut kalau ini Ramadan terakhir, dan kita belum benar-benar jadi lebih baik.

Mengingat Ramadan bukan berarti terus-terusan sedih karena dia selesai. Mengingat Ramadan itu artinya menjaga kebiasaan baik yang sudah dibangun.

Nggak perlu langsung ekstrem, nggak perlu tiba-tiba berubah drastis. Cukup mulai dari yang kecil, tetap jaga salat tepat waktu, tetap buka Al-Qur’an walau cuma beberapa ayat, tetap belajar nahan emosi, tetap jujur walau nggak ada yang lihat. Karena bisa jadi, cara terbaik untuk “Mengingat Ramadan" bukan dengan merindukannya, tapi dengan melanjutkannya.

Ramadan itu kayak pelatih kita. Dia datang kayak buat melatih kita. Tapi setelah dia pergi, kita yang harus tetap lari sendiri. Jadi kalau nanti kita benar-benar berpisah, pertanyaannya bukan lagi “Apakah Ramadan akan kembali?” Tapi, “Apakah aku masih menjaga apa yang sudah dia ajarkan?”

Karena kalau kebaikan itu masih hidup setelah Ramadan pergi, berarti kita nggak benar-benar kehilangan apa-apa. Justru kita sudah berhasil naik level. Dan justru, mungkin itulah tanda bahwa Ramadan tidak hanya singgah… tapi sudah tinggal di dalam hati.

~ Amin

-


Blog Post Lainnya
Tentang Kami
Baitul Maal Amanah memiliki visi menjadi lembaga sosial kemanusiaan yang responsif peduli dan melayani. Serta terpercaya dalam melayani pengelolaan program dan donasi yang amanah, profesional, dan transparan.
Alamat
Ruko BMA, Jl. Pulau Singkep, RT. 023/Lk. I, Kel.Sukarame, Kec. Sukarame, Kota Bandar Lampung.
+6285266750044
+6285266750044
bmamanahteam@gmail.com
Media Sosial
-
@2026 Baitul Maal Amanah Inc.